Tampilkan postingan dengan label sulawesi selatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sulawesi selatan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 Juli 2012

berpisah itu menyakitkan, tapi harus #edisi celebes

Desa Bone-bone, 26 Juli 2011
Pagi buta (masih) di rumah Pak Idris, kami sudah siap dengan semua alat perang,hhe.. Hari ini kami akan melakukan pengabdian masyarakat kecil-kecilan yang merupakan bagian dari rangkaian kegiatan kami. Simpel, cara cuci tangan dan gosok gigi yang baik dan benar, namun semoga bermanfaat besar bagi para malaikat kecil penerus bangsa di SD nun jauh ini.

gerbang menuju masa depan, SDN 159 Bone-bone
Sekolah Dasar Negeri 159 Bone-bone, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan : tempat ini adalah satu-satunya sekolah yang ada di desa Bone-bone. SMP ? SMA ? belum ada, sehingga untuk meneruskan sekolah ke tingkat lanjut anak-anak disini harus menempuh perjalanan hingga ke desa tetangga. Jangan ditanya seberapa jauh jaraknya, akan lebih cepat jika ditempuh dengan kendaraan tentunya. Inilah potret kehidupan sebagian kecil masyarakat di Indonesia, jauh dari fasilitas yang memadai bahkan hanya untuk bersekolah pun mereka bingung hendak kemana. Tidak meratanya pendidikan perlu menjadi agenda dan tugas besar bagi setiap warga di negara ini untuk memperhatikan dan mencari solusinya. Adalagi hal yang membuatku tertegun, guru yang mengajar di sekolah ini hanya ada empat orang saja untuk mengajar di enam kelas. Dua orang berdomisili di Bone-bone sekaligus menjadi penjaga dan pengurus sekolah, yang dua lagi harus menempuh perjalanan berjam-jam untuk sampai di SD ini. Setiap hari beliau rela bolak-balik demi membagikan ilmu yang mereka punya. Subhanallah..

kenalan dulu yok sama Pak Guru, hehe..
Ayu dan Widda memberikan pengarahan cara sikat gigi yang baik dan benar
Sebelum melakukan praktek cuci tangan dan gosok gigi bersama, beberapa dari kami masuk ke kelas untuk perkenalan dan memberikan pengarahan, sedangkan yang lain mempersiapkan perlatan dan tempat. Sesi pertama membuat kami sedikit kesulitan, anak-anak kelas satu hingga kelas tiga banyak yang belum bisa berbahasa Indonesia sehingga terjadilah semacam bahasa isyarat ketika mereka berbicara kepada kami. Anak-anak ini juga masih malu-malu dengan kedatangan kami, namun ini semua tidak lantas membuat kami berantakan walaupun begitu acara tetap berlangsung lancar sesuai rencana. Sesi dua membuat kami sedikit lebih santai, anak-anak kelas empat hingga kelas enam sangat komunikatif sehingga suasana pun mencair dengan canda tawa dan tentunya berakhir lancar sesuai rencana.

antri dulu ya adik-adik :)

sikat ayo sikat :D

nah sekarang cuci tangannya juga ya :)

foto bersama di SDN 159 Bone-bone, senyuuuuum !
Hari yang sangat menyenangkan, entah kenapa setiap melihat canda tawa anak-anak membuatku lupa akan segala hal. Dan membuatku ingin berlama-lama bersama mereka. Namun sayang, lagi-lagi waktu yang harus memisahkan. Hari ini terakhir kalinya kami berkegiatan di Bone-bone. Sore nanti truk sayur akan datang karena bertepatan dengan hari pasar, kami pun menumpang hingga ke kota. Semua barang sudah ter-packing rapi, truk pun telah datang, ah rasanya aku tidak ingin pulang, aku sudah merasa nyaman disini. Berpamitan dengan ibu dan adik-adik membuatku ingin meneteskan air mata pertanyaan demi pertanyaan pun muncul di benakku. Kapan kesini lagi ? Kapan bisa bertemu lagi ? Kapan, kapan, kapan ? Berpisah itu menyakitkan, tapi harus kami lakukan karena setiap manusia memang memiliki jalan berbeda untuk hidupnya, dan jalan kami adalah kembali ke Jogja untuk menuntut ilmu.

tim bersama istri dan anak bungsu dari Pak Idris
*Pak Idris belum pulang kerja
bersama Pak Idris
*gak sengaja ketemu di perbatasan desa
Seiring dengan lambaian tangan kecil anak Bone-bone pada kami, teriring pula doa agar apa yang kami lakukan dapat membawa manfaat bagi semua warga disini. Subhanallah, betapa mereka semua sangat menginspirasi, semoga aku pun dapat mengambil pelajaran dari keajaiban mereka. 
sampai jumpa lagi Bone-bone :)
Truk ini akan membawa kami ke kota Cakke, tempat tinggal keluarga Nanang. Nanang yang sewaktu menemani kami baru saja tiba dari Medan karena mengikuti acara Temu Wicara Mapala se-Indonesia, bermaksud untuk menemui keluarganya sebentar untuk memberi kabar. Kami yang menganggap Nanang adalah kompas, sudah pasti kami ikut saja, hhee.. Dari Cakke kami melanjutkan perjalanan pulang dengan men-carter angkutan umum (lagi).

Samalona, pulau kecil menawan hati #edisi celebes

Makassar, 27 Juli 2011
Bangun pagi, mandi, sarapan, jalan-jalan :D Sembari menanti jadwal keberangkatan kapal yang akan membawa tim kembali ke Pulau Jawa, tentu saja kami tidak menyia-nyiakan waktu dua hari untuk menikmati kota Makassar. Berdasarkan rekomendasi Baso (Ketua KORPALA) terdapat sebuah pulau kecil di seberang kota Makassar yang memiliki pemandangan indah dan cocok untuk bersnorkling ria. Kami pun tertarik setelah melihat beberapa koleksi foto pribadi milik Baso. Setelah sarapan kami berangkat dengan angkutan umum entah kemana, pokoknya ngikut Kak Baso, Kak Ratna, dan Kak Nadia, hehe..

Angkutan kami berhenti di sebuah jalan raya yang tidak terlalu lebar namun ramai pejalan kaki, kendaraan dan pertokoan di kanan kirinya. Dari sini tak tampak tanda-tanda adanya pelabuhan apalagi kapal. Baso dkk menuntun kami berjalan memasuki sebuah gapura yang ternyata adalah pintu masuk ke sebuah dermaga kecil. Disinilah kami dapat menemui perahu motor yang akan mengantar menyeberang. Satu per satu dari kami menaiki perahu, karena jumlah yang lumayan banyak kami menggunakan dua perahu untuk sampai disana.
siap menyeberang ? action :D
Aku sempat takut ketika perahu terasa oleng oleh ombak *maklum gak bisa renang ~~ Setelah kurang lebih lima belas menit berada di kapal kecil bermotor, akhirnya kami tiba di daratan, 
yuuuuup Pulau Samalona, welcome !
selamat datang di samalona !
Pasir pulau ini putih, karangnya bagus, suasananya sangat tenang. Aku bukanlah maniak pantai, gak bisa snorkling apalagi renang *sial ! tapi untungnya gak takut main air di pinggiran, hhee... Tapi seketika aku bergumam dalam hati "aku suka pantai !" ketika menginjakkan kaki di pulau ini. Bagaimana aku tidak suka, ini nih penampakannya, so amazing !




Samalona tidak terlalu luas, hanya ada beberapa kepala keluarga dan bangunan di pulau ini, dalam waktu dua puluh menit saja kita sudah bisa mengelilingi seluruh pulau. Begitu sampai di salah satu rumah sewa, kami duduk sesaat menikmati angin sepoi-sepoi di Samalona. Beberapa menit kemudian, makan siang yang dipesan pun selesai dimasak. Akhirnya kami  putuskan untuk makan siang terlebih dahulu sebelum terjun bermain air. Menu khas pulau ini adalah ikan ? hmm.. ikan apa ya namanya, aku lupa @@ Ikan bakar, buncis tumis, sambal pedas maha dahsyat membuat siang terasa makin panas.


ludes..des..des..tanpa sisa :D
Makan siang selesai, saatnya bermain air, yeaaay.. Dengan menyewa sebuah canoe kami bermain di pinggiran pulau. Berendam, renang-renang, snorkling, duduk main pasir, serasa kembali ke masa kecil,hehe..

entah kenapa, ini adalah salah satu foto favorit saya :)
Perlahan matahari mulai kembali turun ke garis cakrawala di kejauhan, sebagai tanda kami harus segera mengakhiri suasana menyenangkan ini dengan terpaksa. Seolah belum mau ditinggalkan, pulau ini memberikan salam terakhirnya dengan menyuguhkan sunset sebelum akhirnya kami bertolak kembali ke Makassar.



Selamat tinggal Samalona, ketika aku mendengar lagu Samalona-Imanez sudah pasti aku bisa membayangkan mu kembali :)

Rabu, 25 Juli 2012

satu hari di ladang padi #edisi celebes

Desa Bone-bone, 25 Juli 2011
Hari ketiga di desa Bone-bone, kami makin terbiasa menjalani rutinitas disini. Hari ini ada panen padi di ladang  yang terletak tidak jauh di atas desa. Kami tahu informasi ini dari Pak Idris yang semalam ngobrol bersama sehabis makan malam. Pagi ini rumah Pak Idris tampak sepi, bapak ke kantor bupati, ibu ke kebun kopi, sedangkan adik-adik sekolah dan ada yang ikut ibu ke kebun. Kami pun beranjak dari rumah menuju ladang sehabis membersihkan peralatan makan tadi pagi.

Terik matahari tampak tak bersahabat, namun tidak menyurutkan semangat kami untuk ke ladang. Di kejauhan tampak titik-titik kecil manusia di tengah ladang, betapa manusia sangat kecil hanya dari jarak pandang beberapa ratus meter apalagi di mata Tuhan ya ???

ladang dari kejauhan
Setelah berjalan beberapa menit, akhirnya kami berada di tempat yang sama dengan titik-titik kecil di kejauhan tadi,hhe..Kami berpencar agar dapat berbaur dengan warga, sembari ikut membantu kami pun berbincang tentang penerapan aturan larangan merokok di desa ini. Panen padi kali ini merupakan pengalaman pertama bagiku, tau ani-ani ? baru kali ini aku tahu bentuk dan wujudnya *memalukan Bagaimana tidak, sejak lahir aku hidup dan tinggal di daerah perkotaan yang bahkan tidak ada ladangnya sama sekali.

bapak ibu maaf saya merepotkan :D
warga gotong royong panen padi


indahnya kebersamaan
istirahat dulu ah, ternyata capek juga ya, hehe..
Menjelang siang, datanglah serombongan ibu-ibu yang tampak beriringan dari kejauhan. Tahukah anda ? ternyata para ibu tersebut datang membawa makan siang untuk warga yang ada di ladang. Selain para ibu adapula anak-anak yang ikut serta membantu. Berhubung juga berada di ladang, maka kami pun diajak santap siang bersama. Senda gurau canda tawa ini tidak akan pernah ku lupakan, makan siang terhangat yang pernah aku rasakan, di tengah hamparan padi dan di antara mereka orang-orang hebat yang menginspirasi.

seorang ibu tampak sedang mengambil piring makannya
gak ada air putih, yang ada kopi, kopi, dan kopi :D
Senda gurau canda tawa ini tidak akan pernah ku lupakan, makan siang terhangat yang pernah aku rasakan, di tengah hamparan padi dan di antara mereka orang-orang hebat yang menjadi inspirasi selanjutnya.

Selasa, 24 Juli 2012

bone-bone, tanpa asap tanpa penyakit #edisi celebes

Desa Bone-bone, 24 Juli 2011
Pagi dingin di Desa Bone-bone, membuatku malas mandi *alasan aja, padahal emang males mandi :D Pagi ini kami masak sarapan bersama ibu, bagian ini juga yang aku suka : masak-masak,hahahaha.. Selesai memasak , kami duduk dan sarapan bersama keluarga Pak Idris, termasuk juga lima anak perempuan bapak yang masih kecil-keil dan lucu. Suasana ini membuatku semangat sarapan di tengah-tengah keluarga besar Pak Idris, sungguh inilah yang aku tunggu selama ini.

dapur di pagi hari
makannya pake nasi merah, hmm..yummy
Agenda kami hari ini adalah melakukan riset sederhana dan mengurus perizinan ke Sekolah Dasar yang akan dijadikan sebagai tempat penyuluhan besok lusa, dan tim pun dibagi dua. Aku kebagian tugas mewawancarai warga, bersama Incem kami pun mulai berjalan-jalan di desa yang tidak terlalu luas ini untuk mencari target. Tidak butuh waktu lama bagi kami berdua, beberapa warga yang sedang bersantai di sekitar rumah menjadi target utama, hhe.. dan tugas pun selesai.

sehabis mewawancara ibunya, foto dulu dengan anaknya, hhe.. (oleh incem)
ini foto diambil waktu ngurus perizinan di SD (oleh viema)
Desa terlihat sepi siang hari ini, karena sebagian besar penduduk memiliki mata pencaharian sebagai petani, sehingga siang hari adalah waktu yang tepat untuk bertani ataupun berladang. Selain itu, hari ini warga sedang melakukan gotong royong membersihkan jalan desa, beberapa anggota tim kami pun ikut terjun langsung dalam kegiatan tersebut.

widda dan viko, yang rajin yaaaaa :p (oleh heri dan kris)
istirahat siang warga yang sedang gotong royong
Dari informasi yang kami dapat, desa ini mulai menerapkan larangan merokok sejak tahun 2000. Memang bukan hal yang mudah, namun berkat niat dan usaha semua warga akhirnya peraturan tersebut dapat berjalan hingga saat ini. Bagi warga yang ketahuan merokok akan dikenakan sanksi sosial, antara lain membersihkan wc umum, membersihkan masjid ataupun membersihkan jalan desa. Larangan merokok ini membawa keuntungan tersendiri bagi warga, selain menghemat pengeluaran, warga pun merasa lebih sehat dan jarang terkena penyakit karena tidak terpapar nikotin secara pasif apalagi aktif. Wah, kapan ya peraturan ini dapat diterapkan di Indonesia ???


Kegiatan pertama di Desa Bone-bone berlalu, ditutup dengan makan malam bersama keluarga Pak Idris. Selesai melakukan evaluasi kegiatan hari ini, kami pun briefing untuk kegiatan esok. Malam semakin larut kami pun kembali ke kamar masing-masing dan beristirahat untuk menyambut kegiatan lain besok pagi.

Senin, 23 Juli 2012

yang dinanti-nanti #edisi celebes

Desa Bone-bone, 23 Juli 2011
Akhirnya setelah berjalan kaki selama kurang lebih empat jam, kami tiba di Desa Bone-bone. Desa ini terlihat lebih maju dibandingkan dusun Karangan. Beberapa anak-anak yang kami temui tampak malu-malu mencuri lihat ke arah kami. Sambil berbisik dan tertawa kecil mereka memandangi kami dari kejauhan, mendadak lelahku hilang melihat tawa mereka. Sebuah Sekolah Dasar terlihat sepi ketika kami lewat, ini adalah sekolah yang akan kami jadikan tempat penyuluhan.

foto ini diambil setelah beberapa hari berada di Bone-bone
karena plang ini berada di pintu masuk desa, sedangkan kami datang dari arah belakang desa
Masuk ke tengah-tengah desa, tampak beberapa ibu-ibu bermukena sedang berkerumun di sebuah mobil bak terbuka. Ternyata sore itu datang sebuah mobil bak terbuka membawa dagangan berupa alat-alat rumah tangga. Maklum, desa ini jauh dari kota sehingga ada hari-hari tertentu bagi masyarakat agar dapat berbelanja keperluan sehari-hari. Senin dan Kamis adalah jadwal truk datang untuk mengangkut warga yang ingin berbelanja ke pasar. Dan pemandangan ini ternyata adalah hal biasa di desa Bone-bone, ibu-ibu tadi baru saja selesai shalat berjamaah di masjid yang sedang dibangun kala itu.

mobil jual-beli keperluan rumah tangga hanya ada dua minggu sekali
"wah ini yang dari jakarta yaaa" kata seorang ibu yang melihat kedatangan kami. Berbeda dengan Karangan, di desa ini mayoritas warga sudah lancar berbahasa Indonesia sehingga lebih mudah bagi kami untuk berkomunikasi. "dari Jogjakarta ibu, bukan dari Jakarta" kata Incem membenarkan. Sebelum datang kesini, jauh sebelumnya kami sudah memberi kabar kepada kepala desa bahwa kami akan datang untuk melakukan riset sederhana dan penyuluhan hidup bersih. Ternyata warga satu desa pun sudah tahu akan hal tersebut dan sudah menanti kedatangan kami sejak lama. Maaf..maaf..karena pelaksanaan kegiatan kami mundur dari jadwal sebelumnya. Beberapa warga mengira kami datang dari Jakarta, mungkin karena ada kesamaan pengucapan pada kata Jogjakarta dan Jakarta yaaa,hhe..

rumah tempat kami tinggal, rumah Kepala Desa Bone-bone : Pak Idris
Pak Idris, nama seorang bapak yang memimpin desa ini alias Kepala Desa Bone-bone. Rumahnya adalah tujuan utama kami ketika sampai disini. Berbekal informasi dari warga, kami mendatangi rumah Pak Idris. Kami disambut hangat oleh istri beliau, Pak Idris sendiri belum pulang dari kantor Kabupaten Enrekang. Kami pun beristirahat sembari menikmati pemandangan alam yang indah di sekitar desa ini. Seperti sebuah lingkaran, desa ini dikelilingi oleh barisan pegunungan latimojong sehingga udaranya pun sejuk ditambah sejuknya udara tanpa asap rokok disini. hmmm...

dusun terakhir, bukan berarti akhir perjalanan kami #edisi celebes

Dusun Karangan, 23 Juli 2011
Ini adalah hari terakhir kami singgah di dusun Karangan. Selesai packing semua barang, kami ke rumah Pak Kadus menanti Jip yang akan datang menjemput. Di bantu Pak Kadus yang turun ke perbatasan memanggil Jip, lagi-lagi kami bersyukur selalu saja ada tangan-tangan yang dikirim untuk memperlancar perjalanan kali ini. Setelah beberapa waktu menunggu, Jip yang ditunggu pun datang. Sama halnya ketika kami datang, lagi-lagi kami di kelilingi oleh warga dan anak-anak disini. Entah mengapa aku jadi terharu, mungkin inilah cara mereka menyambut dan mengantarkan tamu pulang, mereka tidak bisa mengatakan dengan bahasa yang kami paham, tapi mereka bisa menyampaikan lewat tindakan. Ah Karangan, kapan aku bisa kesini lagi ?? Rasa-rasanya aku tidak akan pernah mungkin sampai disini jika tidak pernah ada kegiatan pendakian ini. Jip pun berlalu meninggalkan dusun, diikuti oleh anak-anak yang berlari dan akhirnya menjauh..jauh..dan jauh.. Sampai Jumpa Karangan :)

Menuju Desa Bone-bone, 23 Juli 2011
Karangan bukanlah tempat terakhir yang kami datangi dalam rangka perjalanan kali ini. Next destination kami adalah Desa Bone-bone, desa bebas rokok pertama di Indonesia. Hmm..terdengar begitu sejuk di telinga. Untuk menjangkau desa ini kami harus melewati medan yang hampir sama seperti keberangkatan menuju dusun Karangan. Dengan Jip yang masih muda dan gagah, kali ini perjalanan kami bisa dibilang masuk dalam zona nyaman walaupun medannya berat,hhe.. Dusun Karangan dan Desa Bone-bone dipisahkan oleh desa yang bernama Angin-angin, namun tak semudah yang dibayangkan. Dari Dusun Karangan kami menempuh waktu kurang lebih satu jam untuk sampai di Desa Angin-angin dengan menggunakan Jip. Dari Desa Angin-angin menuju Desa Bone-bone ditempuh kurang lebih satu jam dengan menggunakan Jip hingga di perbatasan. Perbatasan ini merupakan jalan terakhir yang bisa dilewati oleh kendaraan, setelah itu kami harus berjalan kaki untuk sampai di Desa Bone-bone.

istirahat makan siang dulu :D
lanjut gan ! bentar lagi nyampe :D
Carrier di belakang, ransel di depan, jinjingan di tangan, sungguh bukan kondisi yang nyaman dan menyenangkan. Namun Desa Bone-bone menjadi semangat tersendiri bagi ku untuk terus melangkah. Mengingat pengalaman dan cerita apalagi yang akan aku dapatkan disana. Tujuan kami ke Desa Bone-bone adalah melakukan riset sederhana mengenai sejarah perkembangan larangan merokok yang berhasil diterapkan disana. Selain itu, kami juga akan melakukan penyuluhan dan praktek hidup bersih melalui gosok gigi dan cuci tangan bersama. Membayangkannya membuatku tak sabar ingin segera sampai.

Rabu, 18 Juli 2012

makhluk asing dari negeri antah berantah #edisi celebes

Dusun Karangan, 18 Juli 2011

eh adiknya tau aja kita lagi foto :D
Pagi ini kami bersiap melanjutkan perjalanan lagi ke dusun terakhir di kaki Gunung Rante Mario. Sedari pagi kami mendengar suara ramai anak kecil di luar sana, astaga kami lupa kalau ini adalah hari senin tentu saja suara-suara itu berasal dari pejuang cilik yang siap menuntut ilmu. Mengendap-endap kami memutar lewat belakang sekolah agar bisa keluar lewat gerbang yang hanya ada di depan. Semua murid dan guru sedang mengikuti upacara bendera, lucunya anak-anak disini membuat aku ingat masa kecil sewaktu baru masuk SD, hahaha.. *sudah berapa puluh tahun lalu ya ~~ Sebuah angkutan kota carteran sudah siap mengantar kami melanjutkan perjalanan. Angkutan ini akan mengantar kami mencari Jip yang kemudian kami tumpangi untuk menjangkau dusun terakhir di kaki Gunung Rante Mario, dusun Karangan.

yak, angkutan siap berangkaaaaaat !
Di perjalanan yang mulai menanjak, dua kali carrier-carrier kami jatuh dari atap mobil. Beberapa kali kami harus turun dari angkutan dan jalan kaki, karena mobil tidak kuat menanjak dengan beban berlebih *maklum isinya gak hanya manusia, tapi juga bermacam keperluan tim dan pribadi selama satu minggu :D Aku lupa berapa jam tepatnya, tapi kalau tidak salah setelah tiga jam perjalanan dengan angkutan ini kami berhenti disuatu jalan desa yang sedang di perbaiki. Kami pun turun dan berjalan kaki sedikit ke tempat Jip mangkal *udah kayak banci aja :D Sopir yang sudah deal akan mengantarkan kami sedang istirahat siang, kami pun ikut bersantai sejenak.

Beberapa menit kemudian Jip siap berangkat, namun lagi-lagi sebelas anggota tim, sebelas carrier, sebelas ransel biasa, dan keperluan lainnya dalam satu jip yang sama. Nah loh bayangkan, jip yang kami naiki ini jauh lebih kecil muatannya daripada mobil yang mengantar ke Baraka. Alhasil lagi-lagi harus tumpang-tindih pake banget,hahahaha..Medan yang tidak bersahabat pun menjadi tantangan tersendiri bagi kami penumpang jip ini. Naik turun, berbatu, berdebu, hutan di kanan-kiri, menjadi teman kami selama perjalanan. Yang lebih menakjubkan ketika sungai kecil melintang di depan kami, jip ini hanya berjalan menerobos. Kami sempat khawatir dibuatnya, bagaimana tidak, kondisi jip ini sudah tidak muda lagi. Kondisi ini jelas terlihat dari atap yang harus kami pegangi karena terlihat tidak mampu menahan beratnya carrier yang diikat di atasnya. Ditambah lagi dengan beberapa bagian jip sudah keropos dimakan karat. Makin khawatirlah kami dibuatnya @@
penampakan jip beserta barang-barang kami
Tiga jam perjalanan, kami hampir sampai didusun Karangan *kata bapaknya sih gitu. Namun tiba-tiba saja terasa ban mobil mengganjal sesuatu. Widda, salah satu anggota tim yang duduk di kursi depan dekat pintu berkata "pak, ban depannya lepas" Kami yang berdesakan di kursi belakang pun hanya bisa terperangah dan bergegas turun. Dengan santai pak sopir turun dari mobil mengecek dan berkata "oh, ini sudah biasa mas, bentar juga selesai" Antara menahan tawa dan menahan rasa khawatir kami hanya mengangguk tanda setuju, hahahaha..

supir jip dan ban yang copot @@
Dan memng benar, tidak butuh waktu yang lama bagi si bapak untuk memasang ban pada tempatnya. Perjalanan pun dilanjutkan, rumah-rumah sudah mulai tampak di kejauhan. Segerombolan anak-anak kami temui sedang berjalan menuju dusun, ada yang memakai seragam sekolah dan ada yang tidak. Mereka mengejar jip yang kami tumpangi dan mulai berloncatan memaksa bergelantung di bagian belakang mobil. Kami yang sudah sangat  berdesak-desakan di belakang merasa sangat khawatir kalau-kalau mereka terjatuh ke jurang di pinggir jalan.

berjalan kaki sudah menjadi kebiasaan sehari-hari
semacam tempat warga bersantai 
Akhirnya kami tiba di dusun Karangan. Entah apa yang salah dari kami, semua warga perlahan datang berkerumun melihat kedatangan kami. Kami pun serasa makhluk asing yang datang dari planet lain, karena sama sekali kami tidak paham dengan bahasa yang mereka gunakan. Lagi-lagi Nanang beraksi, kali ini dia menjadi translator bagi kami,hhee.. Setelah semua barang turun dari jip, kami mendatangi rumah kepala dusun Karangan. Beruntungnya, pak Kadus adalah salah satu orang yang bisa berbahasa Indonesia disini. Warga disini belum banyak yang dapat berkomunikasi dengan bahasa Indonesia, namun mereka paham dengan apa yang kami sampaikan dengan bahasa Indonesia. Bagi mereka mungkin kami adalah orang yang sangat asing, datang dari pulau seberang yang sangat jauh dari jangkauan mereka. Namun bagiku, mereka adalah bagian dari perjalanan hidup yang akan terus aku ingat.

Selasa, 17 Juli 2012

Minggu Pagi di Kecamatan Baraka #edisi celebes

Baraka, 17 Juli 2011
alih fungsi sementara :
halaman sekolah jadi tempat jemuran Pak Dadang,hhee..
Minggu pagi di sebuah Sekolah Dasar yang sepi. Hari ini agenda tim adalah berbelanja keperluan logistik konsumsi untuk beberapa hari ke depan. Menurut informasi dari Nanang, pasar terakhir yang dapat kami temui sebelum pendakian hanya ada di kecamatan ini, setelahnya kami tidak akan menemui pasar sebesar di kecamatan ini. Tidak mau kehilangan kesempatan melihat langsung kehidupan ekonomi di Baraka, seluruh anggota tim ikut berbelanja ke pasar :D

model rumah yang ada di kecamatan ini kebanyakan seperti di gambar
Baraka, merupakan salah satu kecamatan yang secara geografis masuk ke Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan. Mayoritas penduduk disini bekerja sebagai pedagang. Rumah-rumah disini kebanyakan bergaya panggung dari kayu, mengingatkan aku akan kota kelahiran ku Palembang yang rumah adatnya bernama Limas dan bentuknya panggung. Di perjalanan kami menemukan sebuah rumah yang lumayan mewah, dan satu-satunya. Terakhir kami tahu ternyata itu adalah rumah pak camat *oooooh..

pasar sudah agak sepi karena kami datang kesiangan ~~
salah satu toko kelontong yang ada di sekitar pasar
Hanya sepuluh menit berjalan kaki, kami tiba di keramaian pasar tradisional Baraka. Lagi-lagi ini juga salah satu bagian yang aku suka, memperhatikan orang-orang berbelanja. Harga barang-barang kebutuhan disini tidak jauh berbeda dengan di kota, hanya lebih mahal seribu-dua ribu rupiah saja. namun ada beberapa barang yang harganya bisa mencapai dua kali lipat harga normal. Maklum, butuh waktu yang tidak sebentar untuk mendatangkan barang-barang kebutuhan pokok kesini.

widda, penanggung jawab belanja logistik konsumsi
widda belanja,
ayu dan viema jajan es semacam cendol, ckckck :D
aku juga jajan :p
hmm..semacam lemper ketan dicampur beras merah
belanja selesai, ayo kita pulang :D
Selesai berbelanja kami kembali ke Lembayung, lapangan sepak bola di depan SD yang sepi dari kemarin, hari ini tampak ramai oleh beberapa anak laki-laki yang bermain sepak bola. Sungguh damai daerah ini, tidak ada kebisingan kendaraan yang berarti, hanya sesekali terdengar bunyi kendaraan bermotor. Tidak ada polusi berlebih, yang ada hanya debu karena jalanan belum di aspal. Secara kasat mata, kecamatan ini terbilang cukup mapan dilihat dari lingkungan rumah, fasilitas pendidikan yang ada dari TK hingga SMA, dan aku sempat menemukan ATM di dekat pasar kami berbelanja tadi. Namun fasilitas kesehatan yang ada terbilang masih kurang memadai, di kecamatan ini hanya ada puskesmas sebagai sarana kesehatan yang hanya memiliki satu buah ambulans untuk antisipasi keadaan darurat ketika pasien harus dibawa ke kota.

Ronaldo masa depan :)
(calon) timnas junior bersama heri dan widda :D
Siang ini kami menghabiskan waktu untuk mengurus perizinan ke camat dan puskesmas, serta beberapa anggota tim memasang instalasi komunikasi di kantor Polsek. Aku yang bebas kerja siang ini memilih untuk duduk santai di taman SD sambil berkeliling bersama Incem melihat bangunan sekolah. Sembari berkeliling, pikiran ku pun berkeliling dikepala "Dari sini ke Jogja berapa kilometer ya, apalagi ke Palembang" .