Tampilkan postingan dengan label naik gunung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label naik gunung. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 September 2012

sepuluh menit, untuk sebuah puisi


Aku mendengarmu berbisik di balik Puncak megahmu
Memanggil-manggil ke negeri di atas awan
Tergesa-gesa ku seret tubuh lemahku
Menapaki tiap kesabaran yang kau janjikan
Aku yakin kau tak kan pernah mengingkarinya

Setiap jengkal langkah adalah keberanian
Keberanian melawan ketidakberdayaan
Setiap tetes peluh adalah pengorbanan
Pengorbanan atas suatu impian
Itu yang kau katakan padaku

Perlahan cahaya petang meredup dari pandangan,
Berganti langit muram menyaksikan malam,
Gemericik air berkejar-kejaran membasahi kehidupan,
Angin pun turut serta menghujam tiap persendian tulang,
Aku tahu inilah caramu menyambutku

Bentangan eddelweis mu selalu membayangi,
Membuat diri ini ingin segera bersandar pada keabadiannya,
Menyaksikan mentari perlahan naik bersamamu,
Mandalawangi …
Aku cinta pada caramu menyadarkanku

Mandalawangi, Gunung Pangrango 2011 - Tanti

*Bongkar-bongkar folder lama di laptop eh ketemu puisi di atas yang ku buat sebagai tugas menulis cerita perjalanan yang menjadi kebiasaan di MAPAGAMA. Kala itu kami (cewek-cewek MAPAGAMA) baru saja sampai di Jogja setelah mendaki Gunung Pangrango di Jawa Barat dalam rangka memperingati Hari Kartini. Tidak ada banyak waktu untuk menulis cerita, Mandalawangi berhasil membuatku menyusun sebuah puisi hanya dalam sepuluh menit saja. WOW, padahal dalam keseharian ini bukan pekerjaan mudah bagi saya bung !

Selasa, 19 Juni 2012

merbabu dan sejuta kisah #bagian 3

Layaknya sebuah doa, puncak Merbabu jadi kenyataan. Ini adalah kali ketiganya aku menginjakkan kaki di Merbabu pada satu tahun yang sama, dan hanya berselang beberapa bulan saja. Semacam penebusan dosa, aku dan tim yang sebelumnya mendaki lewat jalur selo hingga puncak kesepakatan, kali ini lewat jalur wekas kami menuju Puncak Triangulasi. Masih dengan formasi yang sama, plus pendamping yaitu Aries bukan Mas Angga seperti sebelumnya.

Ajaib rasanya bagiku, kami memulai perjalanan pukul delapan pagi dan tiba di pertigaan puncak pada pukul 12 siang. Beristirahat sejenak sambil makan siang, puncak sudah di depan mata.

Aries dan plang pertigaan menuju Puncak Kentheng Songo
Dua jam kemudian, kami tiba di Puncak Kentheng Songo. Tanpa basa-basi, langsung kami tinggalkan carrier dan membawa keperluan secukupnya saja menuju puncak tertinggi Merbabu, Puncak Triangulasi. Mengabadikan momen tentu tidak kami lewatkan begitu saja, Subhanallah inilah beberapa foto kami yang serasa berdiri di atas awan ciptaan Tuhan.

Full team Rante Mario *kiri ke kanan gambar
incem, tanti, viema, ayu, aries, heri, viko, kristian, wida
we are HAYSTACK *nama angkatan kami
bendera MAPAGAMA, Spanduk Kegiatan, Slayer Janji Angkatan
Kangen rasanya melihat foto ini, kapan lagi bisa kegiatan bareng satu angkatan kayak gini ya? 

Minggu, 17 Juni 2012

merbabu dan sejuta kisah #bagian 2

wow Merbabu lagi! belum pernah terpikir sebelumnya bahwa aku akan mendaki sebuah gunung yang sama untuk kedua kalinya. Sebelumnya aku pikir mendaki satu kali ke suatu gunung adalah sebuah keajaiban, mengingat aku yang megap-megap kalo mendaki gunung, haha.. Untuk kedua kalinya aku datang ke Merbabu, namun lewat jalur yang berbeda. Jika sebelumnya aku dan tim naik lewat jalur Wekas menuju Pos II, kali ini rencananya aku dan tim naik lewat jalur Selo menuju Puncak Triangulasi dalam rangka kegiatan yang berbeda, yaitu Try Out sebelum berangkat mendaki ke Rante Mario (salah satu puncak gunung di Sulawesi Selatan). Tim kali ini terdiri dari delapan orang teman satu angkatan di MAPAGAMA (Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Gadjah Mada), didampingi oleh seorang kakak angkatan yang nantinya akan menilai kemampuan pencapaian materi tim.

tim kami minus Mas Angga yang motretin :D
Sebelum memulai kegiatan, seperti biasa kami berdoa dan.. Viva MAPAGAMA so..so..so.. Perjalanan pun di mulai, ini nih bagian yang tidak terlalu aku suka dimana tubuh baru saja beradaptasi dengan medan dan situasi di gunung. Beberapa jam berjalan sambil sesekali berhenti mempraktekkan materi IMPK, akhirnya dengan sangat menyesal diketahui bahwa kami berjalan melenceng dari jalur (-.-") Berdasar peta dan kontur, ternyata jalur yang seharusnya dilewati sudah terlalu jauh dengan posisi kami berada sekarang. Tidak ada jalan lain selain potong kompas alias terabas, karena hari yang mulai sore tidak memungkinkan kami kembali ke jalan yang seharusnya. Naik turun perbukitan kami lalui, rumput dan tanaman tinggi rapat menghalangi jalan, akhirnya tramontina alias golok tebas pun mejalankan tugas sebagaimana mestinya, tidak hanya menjadi pengaman diri ataupun peralatan leave no trace (you know what i mean, haha...).

gini ni kalo salah jalur ~~
Hari beranjak malam namun kami belum berhasil berada di jalur yang tepat. Faktor keamanan, cuaca, dan waktu pada saat itu tidak mendukung kami untuk melanjutkan perjalanan, setelah berdiskusi singkat diputuskan tim bermalam di titik terakhir kami berada. Camp pun segera berdiri, sebisa mungkin kami mencari sinyal HT maupun HP untuk menyampaikan kabar terakhir tim pada basecamp MAPAGAMA. Bagian ini yang paling aku suka, menghabiskan malam di bawah bentangan langit sambil duduk manis di antara hamparan rumput khas pegunungan menikmati kelap-kelip kota dari ketinggian. Ditambah bonus secangkir teh manis dan obrolan hangat orang-orang di sekitar. Inilah yang selalu aku rindukan di kala jenuh dengan rutinitas sehari-hari. Ah..saking menikmatinya aku sampai lupa kalau sebenarnya kami "tersesat", all is well !

photo dulu lah sebelum turun, dari puncak kesepakatan, hho~
Pagi berkabut tidak bertahan lama menutupi langit, cerah mendampingi kami membereskan camp yang kemudian mulai menyusun kembali tiap barang ke dalam carrier (ransel untuk naik gunung). Setengah jam kemudian kami siap untuk kembali ke basecamp selo, karena waktu yang kami punya terbatas untuk tetap tinggal disini. Selamat tinggal Merbabu, semoga aku bisa kembali lagi ke jalur-mu yang benar dan dapat menginjakkan kaki di puncak-mu di lain kesempatan @@ amiiiiiiiin.

#dibuang sayang edisi photo narsis

viko, wida, kris, heri bergaya ala boyband :D
*kiri ke kanan gambar
rumputnya bikin keren walaupun gatel, iya gak vik? :D
aku, incem, viema, dan ayu gak mau kalah narsis dong :D

Sabtu, 16 Juni 2012

merbabu dan sejuta kisah #bagian 1

Duduk menanti pengunjung toko membuat pikiranku jalan-jalan ke tahun lalu. Merbabu, nama salah satu gunung yang terletak di provinsi Jawa Tengah dan terkenal di kalangan para 'hikers'. Gunung Merbabu memiliki ketinggian 3.142 mdpl dan memiliki empat jalur resmi pendakian, wekas, selo, cunthel, dan kopeng. Aku pertama kali menginjakkan kaki di gunung ini hmm..sekitar satu tahun lalu di bulan maret *kalo gak salah. Pada saat itu aku dan beberapa teman perempuan di MAPAGAMA (Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Gadjah Mada) melakukan try out pendakian guna menuju Gunung Pangrango dalam rangka hari Kartini. Adapun maksud dan tujuan pendakian adalah mensimulasikan materi apa saja yang akan kami lakukan di Pangrango nantinya. Tidak terlalu sulit menjangkau basecamp dan pos perizinan pendakian jalur ini. Yogyakarta memang kota strategis bagi penggiat alam bebas, bagaimana tidak bahkan untuk sampai di basecamp bisa kami tempuh hanya dengan mengendarai motor, yaa tapi dapat dibayangkan Yogya-Wekas kurang lebih tiga jam duduk di motor, hehe.. Kendaraan umum juga dapat dijumpai untuk sampai di daerah wekas.

Setibanya di basecamp Pak Min, kami segera menyelesaikan urusan administrasi dan siap memulai pendakian. Berikut ini beberapa dokumentasi perjalanan yang berhasil diabadikan sebelum tiba di Pos II yang menjadi target camp.



Target pendakian kami kala itu memang bukan puncak, melainkan mendirikan camp di Pos II dan keesokan paginya melanjutkan praktek materi navigasi darat dan IMPK. Perjalanan terasa sangat menyenangkan, penuh dengan kehebohan maklum personelnya kan perempuan semua :D Diperlukan waktu tiga jam bagi kami untuk tiba di Pos II dan akhirnya mendirikan camp, sore pun berlalu dengan kegiatan masak-memasak makan malam. Malam terasa begitu cepat berlalu karena tenda dipenuhi gelak tawa dan canda. Kami putuskan mengisi waktu sebelum tidur untuk bermain kartu dan curhat session mulai dari masalah kuliah, teman, hingga .......*rahasia dong :D

chaty sm mbak wot lagi ngetawain apa yaa ?? @@
kalah main, cium mbak tilla deh hukuman buat mbak laras :D
Keesokan paginya, selesai sarapan kami kembali melanjutkan kegiatan yaitu praktek materi navigasi darat. Hingga siang menjelang, akhirnya semua kegiatan selesai. Kembali ke camp dan packing adalah acara terakhir tim. Sekitar pukul dua siang, tim siap turun kembali ke basecamp Pak Min.

Sindoro-Sumbing, tetangga dekat Merbabu
dimana pun berada, kita emang heboh :D
yulia, bekti, laras, tilla, tanti, chaty, larashati *kiri ke kanan gambar
kembali menuju basecamp
Selesai sudah cerita cewek rempong di Merbabu, nantikan cerita selanjutnya yaaa ;)

Rabu, 25 April 2012

naik-naik ke Bukit Kaba #bagian 2

Bukit Kaba *lagi. Sebelumnya aku sudah pernah bercerita tentang tempat ini. Bagi yang lupa atau belum baca, boleh banget dibaca dulu yang ini "naik-naik ke Bukit Kaba #bagian 1" biar nyambung, hehe. Pada posting kali ini, aku hanya menampilkan beberapa foto saja karena keterangan mengenai tempat sudah ada pada posting sebelumnya.

Foto ini diambil pada bulan Juni 2009, tepat beberapa minggu saja sebelum akhirnya kami menyelesaikan pendidikan di bangku SMA. Perjalanan kali ini kami anggap sebagai acara perpisahan. Mengingat aku akan segera pindah ke kota lain untuk melanjutkan kuliah, entah kapan kebersamaan ini bisa terjadi lagi. Ah jadi melow kalo diinget-inget.  

tebing kawah Bukit Kaba
hayooo, siapa yg gak ikutan ya?
personel kami tambah satu dari pendakian Kaba sebelumnya
aku tetep aja cewek sendiri di antara Ijal, Sanusi, Iqbal, dan Nanda (-__-")
Berikut ini fotoku bersama tiap personel, ah kangen mereka :|

aku dan Nanda (kereta menuju Linggau)
aku dan Iqbal (persis di hadapan camp)
aku dan Sanusi (ini juga di depan camp)
aku dan Ijal (jalan menuju kawah)
Kangen berat dengan pria-pria ini. Kapan bisa gini lagi? :(

Sabtu, 11 Februari 2012

naik-naik ke Bukit kaba #bagian 1

Setelah perjalanan pertamaku naik-naik ke Bukit Jempol atau yang lebih familiar dengan nama Bukit Serelo, teman-teman 'gila' ku kembali mengajak menghabiskan liburan sekolah ke salah satu bukit yang terletak di perbatasan provinsi Bengkulu-Sumatera Selatan, Bukit Kaba. Berbeda dengan perjalanan sebelumnya, kali ini kami hanya berangkat dengan jumlah personel empat orang saja, dan aku adalah satu-satunya perempuan di dalamnya. Ini adalah satu hal yang kadang membuatku heran, kenapa orang tua teman (perempuan) ku tidak mengizinkan anaknya ikut bersama kami? Sedangkan orang tua ku mengizinkan dengan lapang dada, hal inilah yang kemudian mengakibatkan aku menjadi satu-satunya perempuan dalam tim, dan tentu saja selalu istimewa, haha..

Pagi yang cerah di kota Palembang.
Tim yang terdiri dari Nanda, Sanusi, Iqbal dan aku berkumpul di rumah Nanda sembari packing ulang keperluan camping. Kami berangkat ke Stasiun Kertapati dengan naik angkutan umum, ini membuatku mencium kembali bau perjalanan menyenangkan bersama tiga lelaki sahabatku ini. Pagi menjelang siang kereta yang kami tunggu pun siap berangkat, kami bergegas naik menempati lapak *maklum, waktu itu kereta ekonomi masih pake sistem rebutan. Tujuan utama kami adalah kota Lubuk Linggau yang berbatasan langsung dan berada di sebelah selatan provinsi Bengkulu. Palembang-Lubuk Linggau ditempuh dalam waktu 8jam menggunakan moda transportasi jenis ini, hari sudah gelap ketika kami sampai disana. Om dan kakak sepupuku sudah menanti di luar stasiun, malam ini kami bermalam di rumah beliau sebelum kembali melanjutkan perjalanan.

Pagi berikutnya, di kota Lubuk Linggau.
Packing selesai, perut kenyang, kami siap berangkaaaattt! Untuk menuju ke kaki bukit yang terletak di kabupaten Rejang Lebong, Curup-Bengkulu ini, kami menumpang mobil sayur dari pasar Lubuk Linggau yang terletak tak jauh dari alun-alun kota menuju ke Desa Sumber Bening yang merupakan persimpangan menuju Bukit Kaba. Dibutuhkan waktu kurang lebih 2jam untuk tiba di Desa Sumber Bening, jalan yang berkelok-kelok membuat perutku mual namun pemandangan hijau nan indah serta cuaca yang sejuk membuatku dengan cepat tertidur pulas, hehe.. Tak terasa, mobil berhenti di sebuah simpang empat jalan raya yang ramai penjual-pembeli, yaaa ini pasar Desa Sumber Bening. (1)"Kito nyampe!" teriak ku pada ketiga sahabat yang juga tampak antusias, Nanda pun menjawab (2)"Kito belom nyampe tan, naek ojek dulu ke posko". Baiklah, kami pun naik ojek dengan hasil tawar-menawar Rp 15.000/ojek hingga ke posko pendakian yang memakan waktu setengah jam perjalanan.

Posko Pendakian Bukit Kaba.
Kira-kira pukul 11.00 WIB kami tiba di salah satu bangunan sederhana dengan warung seadanya. Sebelum melakukan pendakian kami wajib lapor dan membayar biaya retribusi. Sembari salah satu teman mengurus perizinan, aku berkenalan dengan anak perempuan penjaga pos yang saat itu sedang ngoceh-ngoceh sendiri dengan bukunya. Usianya kira-kira lima tahun dan mengaku belum sekolah, namun sudah pandai mengeja, aduuuh lucunya >.< yang paling tidak bisa aku lupakan adalah namanya, Anja Puspita Rinjani. Aku pun bertanya kenapa namanya seperti nama sebuah gunung ?? (3)"soalnyo ayah seneng naek gunung kak" jawabnya dengan polos. Sayang waktu berbincang ku dengan Anja harus berakhir, karena kami akan segera melanjutkan perjalanan. Sebelum memulai perjalanan, mari kita fotoooooo :D

Kebun belakang posko pendakian Bukit Kaba
Nanda, Aku, Iqbal, dan Sanusi (dari kiri ke kanan)
Untuk mencapai puncak Bukit Kaba yang terdiri dari 3 kawah belerang ini dibutuhkan waktu sekitar 4jam perjalanan lewat jalur pendakian, dan 2jam perjalanan dengan motor trail namun melewati jalur yang berbeda. Tidak lupa berdoa, kami memulai perjalanan dengan melewati ladang milik penjaga posko. Tidak lama berjalan, kami disambut oleh sungai kecil yang menjadi batas pintu rimba atau pintu masuk Bukit Kaba.

Sanusi dan Iqbal narsis-narsisan di pintu rimba Bukit Kaba
istirahat di tengah perjalanan, kok kayak Pre-Wedding ya? :D 
Selama perjalanan, kami ditemani oleh rimbun pepohonan dan tumbuhan, jenis hutan hujan tropis yang lembab disini membuat rasa lelah tidak terlalu dirasa. Oh iya, hal yang perlu diperhatikan disini adalah langka kaki, karena jenis tanahnya yang licin dan berlumut beberapa kali sempat membuat kaki ku terpeleset. Lima jam kemudian setelah melewati vegetasi yang cukup rapat, akhirnya kami tiba di camping ground. Di tempat ini terdapat sebuah kubah persegi yang tidak terlalu besar, kubah ini berfungsi sebagai pos pemantauan aktifitas gunung berapi dikarenakan beberapa kawah di puncak bukit ini masih aktif. Setelah mendirikan camp, kami kembali memulai aktifitas dengan shalat Maghrib berjamaah dan masak makan malam. What a beautiful night!

Pagi berkabut di Bukit Kaba.
Dingin menusuk tulang ketika pagi menjelang, masak pagi bersama adalah kegiatan pertama kami hari ini. Nasi sarden lauk nugget, menu spesial dari Nanda sang koki, hehe.. Menikmati sarapan di tengah sahabat diiringi senda gurau, emang paling jossss! haha.. Bau belerang dari puncak Bukit Kaba seolah menyuruh kami cepat-cepat menghabiskan sarapan dan segera menuju kesana. Aku, Iqbal, dan Sanusi bersiap menuju ke puncak bukit. Nanda yang sebelumnya sudah pernah kesana menawarkan diri untuk tinggal, karena suara-suara siamang dari kejauhan membuat kami khawatir meninggalkan camp dalam keadaan kosong.

Iqbal, Aku, dan Sanusi sebelum tiba di bibir kawah

Aku juga narsis loh, kadang-kadang sih :D
Sayang seribu sayang, baterai handphone-ku lowbat sehingga kegiatan potret-memotret terpaksa disudahi. Dua hari satu malam yang sangat berkesan. Terima kasih teman-teman kesabarannya menghadapi aku :D

Catatan:
terjemah kalimat, Palembang-Indonesia:
(1) "Kita sampai!"
(2) "Kita belum sampai tan, naik ojek dulu ke posko"
(3) "Karena ayah suka naik gunung kak"