Tampilkan postingan dengan label budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label budaya. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 Januari 2013

'ngawul-awul' isinya Pasar Malem Sekaten

Yogyakarta memang istimewa. Kalimat itu rasanya memang tidak berlebihan, semua yang ada di dalamnya adalah istimewa. Bagian yang paling aku suka, salah satunya adalah banyak agenda tahunan berbau budaya di kota ini. Sekaten, berasal dari kata syahadatain yang berarti dua kalimat syahadat, merupakan nama dari sebuah upacara adat yang diadakan untuk memperingati hari raya umat muslim, Maulid Nabi Muhammad SAW. Namun, kali ini aku bukan membahas mengenai upacara adat tersebut, melainkan tentang rangkaian acara menjelang perayaan tersebut. Selama satu bulan sebelum upacara Sekaten berlangsung, alun-alun utara kota Yogyakarta disulap menjadi sebuah pasar malam. Pasar malam ini nih yang bakal jadi cerita aku kali ini.

Berburu awul-awul, bagiku ini semacam ritual wajib tiap tahunnya. Pasar malam yang ini emang beda, hampir setengah dari arena ditempati oleh pedagang awul-awul. Awul-awul dalam bahasa Jawa artinya berantakan. Kamu dapat menemukan yang kamu cari kalo udah nguwel-uwel atau ngawul-awul, atau dengan kata populernya ngobrak-abrik,hehe..Barang yang dijual merupakan barang secondhand alias bekas pakai atau baru tapi 'reject', terdiri dari berbagai macam produk fashion anak, dewasa, modern, jadul, cewek maupun cowok loh. Kaos, kemeja, blazer, jaket, celana jeans, celana pendek, rok, rompi, tas, ikat pinggang, topi, dll. Sebagian besar barang dibiarkan menggunung agar pengunjung leluasa memilih dan mengobrak-abrik. Satu hal yang paling saya suka adalah : tidak akan ada penjual yang akan memaki, walaupun barangan dagangan mereka dibuat berantakan dan aku berlalu gak jadi beli :D

yang rapi, yang digantung, yang agak mahal *susah nego
lautan awul-awul, yo ayo dipilih..dipilih..

Harga yang ditawarkan jangan ditanya, sesuai banget sama kantongnya anak kost yang banyak bertebaran di kota pelajar ini. Berapa? Mulai dari kisaran Rp 5.000,- hingga ratusan ribu rupiah untuk yang impor, tenang itu masih bisa ditawar ;) Oiyaa..kalo masalah kualitas mengikuti kok, maksudnya mengikuti ketelitian kamu dalam pilih-memilih,haha.. Jadi tips paling penting adalah : Boleh banget pilih-pilih *konteks ngawul loh ya :p

selain dijual, ternyata awul-awul pun mengadakan pertandingan loh :3
walau ngantuk, ngawul pantang surut ya buuuu,wkwkwk
topi juga ada ???

Dalam perjalanan ngawul ini, aku iseng ngajakin Rochmad eh dia mau, lumayan biar ada yang dimintain pendapat. Makasi ya mat, udah mau aku paksa nemenin, haha..

semangat Rochmad !

Rabu, 12 September 2012

pohon beringin jadi saksi

Dua tahun berlalu, ini kedua kalinya kami berkumpul dan akhirnya jalan bareng lagi. Susahnya minta ampun buat nyatuin jadwal ketemu yang kebetulan kami memang studi di jurusan berbeda, fakultas berbeda, walaupun universitas sama. Pertengahan tahun 2009 kami di pertemukan di deret-deret pintu kamar di satu rumah yang sama. Entah bagaimana cerita pasti kami berkenalan, yang pasti adalah kami teman satu kos dan berteman akrab. Merasa senasib sepenanggungan, jauh dari rumah, jauh dari keluarga, dekat sama kampus *loh. Kami yang pada saat itu adalah Maba (Mahasiswa Baru) dan warga baru Jogja mulai penasaran dengan segala hal yang ada di kota ini. Mulai dari nyari makan, jalan-jalan, beli ini-itu, tidur, bahkan curhat kami pun sering bareng, hehehe.. 

Empat semester bersama, akhirnya satu per satu dari kami bermaksud pindah mencari tempat huni yang lebih nyaman. Imma ngontrak rumah bersama teman sesama fakultasnya, aku pun pindah ke tempat yang lebih dekat dengan fakultas. Sedih kalo inget harus pindah kos, mereka keluarga kecil pertamaku di rantau. Seneng di ketawain, sedih di hibur, males di semangatin, sakit di rawatin, curhat di dengerin. Belum ketemu tandingannya di dua kali aku pindah kos. Semester lalu, ternyata Elly juga pindah kos jadi tinggal Nuri dan Wiwid deh di antara kami berlima yang masih setia tinggal disana.

Tanpa rencana, kemarin sore pesan singkat dari Nuri masuk ke ponsel ketika aku sedang part time. "Tantiii, ntar aku mw nginep di tmpt ima. Mw ikut?" tanpa banyak tanya aku pun langsung membalas tanda setuju. Sepulang kerja aku pun langsung datang ke kontrakan Imma yang tidak jauh dari kos. Sesampainya disana sudah ada Nuri dan Wiwid yang lagi makan malam dan tidak lama kemudian Elly pun datang. Horeee pesonilnya lengkap :D Setelah semuanya berkumpul, kami memutuskan untuk menghabiskan waktu di alkid  alias alun-alun kidul (Alun-alun selatan Keraton Yogyakarta). 

alun-alun selatan Keraton Yogyakarta
Pernah dengar cerita tentang dua pohon beringin disana ? Jadi gini, di tengah-tengah alkid terdapat dua pohon beringin besar yang letaknya menyerupai sebuah gerbang. Ada sebuah mitos tentang kedua pohon ini, jika kita berhasil lewat di antara keduanya dengan mata tertutup maka apa yang kita rencanakan akan berjalan lurus. Kemudian hal tersebut lebih dikenal dengan sebutan masangin, berjalan melewati kedua pohon beringin dengan mata tertutup. Jarak di antara keduanya lumayan jauh sekitar 10 meter, dengan kasat mata kita pasti yakin mampu melewatinya, ini kedua kalinya aku mencoba dan tetap gagal. Aku tidak tahu pasti apa hanya perasaan saja atau pengaruh mitos yang terlalu bergentayangan di kepalaku. Ketika mulai berjalan dengan mata tertutup mendadak suasana sekitar yang tadinya ramai menjadi hening seperti ada sekat di antara kami. Selama berjalan aku selalu memanggil-manggil teman-temanku ini agar aku yakin bahwa mereka memang masih ada di sekitarku. Bukannya berhasil melewati pohon, aku malah berputar arah padahal aku yakin benar langkahku lurus ke arah pohon. Tidak satu pun di antara kami berlima berhasil melewati kedua beringin ini. Hmm.. boleh percaya boleh tidak, namanya mata di tutup ya wajarlah jalannya melenceng, hehehe.. Penasaran ?? Ayo ke Jogja dan coba !

Nuri dan yg lain selalu di dekatku, tapi rasanya bener-bener sendiri
Imma yang terakhir kali nyoba, gagal juga
capek abis masangin, wajib hukumnya bagi kami untuk foto-foto, hahahaha :D

wiwid-nuri-imma-elly (kiri ke kanan)


bayang sahabat :)
boleh dong narsis juga :p
Destinasi terakhir kami kali ini adalah, Ronde. Ronde adalah salah satu minuman khas Jogja, satu mangkok kecil berisi air jahe hangat dengan potongan roti tawar, kacang tanah sangrai, potongan kolang-kaling, dan dua buah ronde (bola-bola dari sagu yang berisi kacang). Cukup dengan lima ribu rupiah saja kita sudah bisa menikmati minuman hangat kesukaanku ini. Sembari mengobrol tidak terasa ronde di mangkok habis tak bersisa, pengamen pun sudah selesai bernyanyi. Jam di tangan menunjukan angka 01.42 WIB, waktunya kembali ke kontrakan Imma. Perjalanan sederhana namun bermakna, bersama empat orang teman luar biasa kami mengawali pagi. Semoga masih ada perjalanan selanjutnya :)

Senin, 05 Maret 2012

susah-susah gampang, hasilnya memuaskan

Tahukah anda dengan batik ? Kebangetan ni kalo gak tau, hehe.. Menurut KBBI alias Kamus Besar bahasa Indonesia, Batik adalah corak atau gambar (pada kain) yang pembuatannya secara khusus dengan menggunakan malam kemudian pengelolaannya diproses dengan cara tertentu. Batik sekarang ini telah diakui sebagai warisan dunia oleh United Nations Educational Scientific and Cultural Organization (UNESCO), waw ini produk Indonesia loh :) Sebenarnya ini adalah hal yang tidak disangka-sangka sebelumnya. Berlandaskan untuk memenuhi tuntutan tugas kuliah, akhirnya aku memutuskan untuk melakukan praktek membatik. Di Yogyakarta tidaklah sulit bagi kita untuk menemukan pengrajin batik, bahkan ada suatu pemukiman yang sebagian besar kegiatan dan mata pencaharian warganya membatik. Salah satunya adalah pemukiman di sekitar tempat wisata sejarah yang berada di lingkungan keraton, Taman Sari Yogyakarta.

Bermodalkan uang Rp 90.000,00- aku sudah mendapatkan paket membatik yang tentu saja telah melewati proses negosiasi sebelumnya, namanya juga mahasiswa rantau, hheee.. Hari itu aku menghabiskan waktu dari pagi hingga sore di rumah salah satu pengrajin untuk menyelesaikan batik ala Tanti, hahaha.. Berdasarkan saran dari Pak .... (lupaaaaa, maaaf  >.<) akhirnya aku memutuskan untuk membuat batik modern alias membuat sesuatu di atas kain dengan tetap menggunakan teknik membatik yaaaa :D


perkenalan dengan peralatan yang digunakan
konsentrasi penuh emang perlu loh, dari kiri ke kanan jangan lupa.
Berikut tahapan dalam membatik yang susah-susah gampang, baca dan pahami yaa kalo bisa ya sekalian praktek juga dong, hheee..

  •  Gambar pola pada kain berwarna putih sesuai dengan kebutuhan.
  • Dengan menggunakan canting, garis-garis pola yang telah digambar dilapisi dengan malam (lilin khusus membatik) yang telah dicairkan, lalu keringkan.
  • Oiya, jangan heran jika melihat pembatik membolak-balik arah kain, karena teknik yang digunakan dalam menggunakan canting adalah dari kiri ke kanan garis pola agar malam hasilnya maksimal. (lihat pada foto)
  • Pada bagian dalam pola yang ingin diberi warna dibasahi dengan air, lalu diberi sol (pewarna khusus batik) yang telah dilarutkan dengan air hangat. Sebelum dikeringkan diberi larutan pengunci warna yaitu naptol. Warna akan muncul ketika kain dikeringkan.
  • Kemudian keseluruhan bagian pada pola yang telah diwarnai dilapisi kembali menggunakan malam agar warnanya tidak tercampur, keringkan.
  • Tahapan ini dilakukan jika ingin memberi warna pada kain dasar, rendam kain dalam larutan air sol sesuai warna yang diinginkan. (tidak perlu dilakukan jika tidak inginmerubah warna kain dasar)
  • Tahapan terakhir yaitu rendam kain dengan air hangat yang dicampur dengan HCL untuk melepas lapisan malam, keringkan dan batik selesai dibuat.
Bagaimana, tertarik ? Selamat mencoba !
Begini ni hasil yang aku buat, setelah dipajang di kamar tercinta :


save our earth !