Rabu, 12 September 2012

pohon beringin jadi saksi

Dua tahun berlalu, ini kedua kalinya kami berkumpul dan akhirnya jalan bareng lagi. Susahnya minta ampun buat nyatuin jadwal ketemu yang kebetulan kami memang studi di jurusan berbeda, fakultas berbeda, walaupun universitas sama. Pertengahan tahun 2009 kami di pertemukan di deret-deret pintu kamar di satu rumah yang sama. Entah bagaimana cerita pasti kami berkenalan, yang pasti adalah kami teman satu kos dan berteman akrab. Merasa senasib sepenanggungan, jauh dari rumah, jauh dari keluarga, dekat sama kampus *loh. Kami yang pada saat itu adalah Maba (Mahasiswa Baru) dan warga baru Jogja mulai penasaran dengan segala hal yang ada di kota ini. Mulai dari nyari makan, jalan-jalan, beli ini-itu, tidur, bahkan curhat kami pun sering bareng, hehehe.. 

Empat semester bersama, akhirnya satu per satu dari kami bermaksud pindah mencari tempat huni yang lebih nyaman. Imma ngontrak rumah bersama teman sesama fakultasnya, aku pun pindah ke tempat yang lebih dekat dengan fakultas. Sedih kalo inget harus pindah kos, mereka keluarga kecil pertamaku di rantau. Seneng di ketawain, sedih di hibur, males di semangatin, sakit di rawatin, curhat di dengerin. Belum ketemu tandingannya di dua kali aku pindah kos. Semester lalu, ternyata Elly juga pindah kos jadi tinggal Nuri dan Wiwid deh di antara kami berlima yang masih setia tinggal disana.

Tanpa rencana, kemarin sore pesan singkat dari Nuri masuk ke ponsel ketika aku sedang part time. "Tantiii, ntar aku mw nginep di tmpt ima. Mw ikut?" tanpa banyak tanya aku pun langsung membalas tanda setuju. Sepulang kerja aku pun langsung datang ke kontrakan Imma yang tidak jauh dari kos. Sesampainya disana sudah ada Nuri dan Wiwid yang lagi makan malam dan tidak lama kemudian Elly pun datang. Horeee pesonilnya lengkap :D Setelah semuanya berkumpul, kami memutuskan untuk menghabiskan waktu di alkid  alias alun-alun kidul (Alun-alun selatan Keraton Yogyakarta). 

alun-alun selatan Keraton Yogyakarta
Pernah dengar cerita tentang dua pohon beringin disana ? Jadi gini, di tengah-tengah alkid terdapat dua pohon beringin besar yang letaknya menyerupai sebuah gerbang. Ada sebuah mitos tentang kedua pohon ini, jika kita berhasil lewat di antara keduanya dengan mata tertutup maka apa yang kita rencanakan akan berjalan lurus. Kemudian hal tersebut lebih dikenal dengan sebutan masangin, berjalan melewati kedua pohon beringin dengan mata tertutup. Jarak di antara keduanya lumayan jauh sekitar 10 meter, dengan kasat mata kita pasti yakin mampu melewatinya, ini kedua kalinya aku mencoba dan tetap gagal. Aku tidak tahu pasti apa hanya perasaan saja atau pengaruh mitos yang terlalu bergentayangan di kepalaku. Ketika mulai berjalan dengan mata tertutup mendadak suasana sekitar yang tadinya ramai menjadi hening seperti ada sekat di antara kami. Selama berjalan aku selalu memanggil-manggil teman-temanku ini agar aku yakin bahwa mereka memang masih ada di sekitarku. Bukannya berhasil melewati pohon, aku malah berputar arah padahal aku yakin benar langkahku lurus ke arah pohon. Tidak satu pun di antara kami berlima berhasil melewati kedua beringin ini. Hmm.. boleh percaya boleh tidak, namanya mata di tutup ya wajarlah jalannya melenceng, hehehe.. Penasaran ?? Ayo ke Jogja dan coba !

Nuri dan yg lain selalu di dekatku, tapi rasanya bener-bener sendiri
Imma yang terakhir kali nyoba, gagal juga
capek abis masangin, wajib hukumnya bagi kami untuk foto-foto, hahahaha :D

wiwid-nuri-imma-elly (kiri ke kanan)


bayang sahabat :)
boleh dong narsis juga :p
Destinasi terakhir kami kali ini adalah, Ronde. Ronde adalah salah satu minuman khas Jogja, satu mangkok kecil berisi air jahe hangat dengan potongan roti tawar, kacang tanah sangrai, potongan kolang-kaling, dan dua buah ronde (bola-bola dari sagu yang berisi kacang). Cukup dengan lima ribu rupiah saja kita sudah bisa menikmati minuman hangat kesukaanku ini. Sembari mengobrol tidak terasa ronde di mangkok habis tak bersisa, pengamen pun sudah selesai bernyanyi. Jam di tangan menunjukan angka 01.42 WIB, waktunya kembali ke kontrakan Imma. Perjalanan sederhana namun bermakna, bersama empat orang teman luar biasa kami mengawali pagi. Semoga masih ada perjalanan selanjutnya :)

1 komentar: