Minggu, 27 Januari 2013

menit-menit penuh makna

Yogyakarta, 27 Januari 2013

Jogja hujan cukup deras.

Beberapa menit yang aku anggap berarti. Di tengah perjalanan sepulang dari toko menuju kost, tiba-tiba banyak hal yang membuat isi kepala ku penuh dengan lamunan. Ada banyak hal yang mungkin sepele tapi membuatku berpikir panjang hingga saat ini duduk manis di depan laptop di kamar yang nyaman *menurutku,haha.. sambil mengetik semua yang masih aku ingat.

Pertama.
sebuah pesan singkat tiba-tiba masuk ke ponsel di saku ku "hujan mpoks". Pesan ini aku terima sesaat setelah meninggalkan pintu keluar salah satu minimarket 24 jam terkenal hampir di seluruh Indonesia. Si pengirim pesan pun tidak lain dan tidak bukan adalah teman satu organisasi dan satu kos (anggap saja adik) yang titipannya menjadi alasan bagiku untuk mampir kesitu. Tidak ada yang istimewa dari pesan tadi, memang betul. Dua kata singkat tersebut tampak sepele namun bagiku ini mengisyaratkan sebuah wujud ungkapan perhatian. Ini semacam sebuah penyakit yang dinamakan kePeDean alias Percaya Diri berlebih. Apa karena hujan ya, jadi mendadak melow hanya karena dua kata tadi,haha..Aku pun bergegas memakai raincoat dan menuju parkiran dengan senyum simpul di bibir.

Kedua.
Seorang wanita paruh baya bersama anak lelaki berusia 6 tahunan duduk di dekat matic Ayu yang ku parkir di halaman minimarket "nyuwun sewu den" yang kalo dibahasakan ini salah satu bahasa sopan untuk meminta belas kasihan. Ah, kedua kalinya di hari ini aku teringat Almarhumah Ibu. Pagi ini ketika aku menjadi fasilitator di sebuah kegiatan outbond, aku berbincang singkat dengan seorang ibu yang ada di kelompok ku di sela-sela berlangsungnya games. Cara berbicaranya mengingatkan pada Almarhumah Ibu yang sudah tiada sejak aku duduk di bangku sekolah menengah pertama. Bukan karena durhaka bukan, aku tidak pernah melupakan ibu, hanya saja aku selalu menganggap beliau sedang duduk manis di rumah menanti aku pulang dari rantau, hanya itu.

Ketiga.
Begitu keluar dari halaman minimarket, aku melihat tampak seperti sebuah kerumunan bapak-bapak yang berteduh. Aku menyimpulkan bahwa mereka adalah pengayuh becak dan penata parkir yang sedang berteduh dan bercengkerama. Beberapa becak dan rompi oranye khas membuatku berpikir demikian. Tiba-tiba mereka berteriak kaget dan berlari, apa yang terjadi ? Ternyata sebuah motor jatuh entah karena terpeleset atau karena mobil yang tampak mendadak berhenti di depannya dari arah berlawanan. Bukan kejadian kecelakaan ini yang kemudian membuatku merenung. Bapak-bapak yang sedang bersantai tadi langsung menyeberang menghampiri pengendara motor, padahal dari arah terdekat korban sudah ada yang membantunya untuk berdiri kembali. Subhanallah, ini yang membuatku terkagum, aku sendiri hanya menoleh dan terus melaju di atas motor. Aku kalah karena menjadikan hujan sebagai alasan untuk tidak berhenti menarik gas motor.

Tiga hal di atas yang kemudian menjadi renungan di sepanjang perjalananku menuju kost, rasa senang, sedih, kecewa pada diri sendiri, semua campur aduk jadi satu. Hanya satu kalimat di penghujung lamunanku, semoga aku bisa menjadi manusia yang lebih baik dan bermanfaat bagi orang lain. AMIEN.

Intermezzo:
Dari tiga hal di atas ada juga hal yang lagi-lagi membuatku geleng kepala. Sewaktu di kasir minimarket aku melakukan transaksi pengisian pulsa elektrik. Selesai menuliskan nomor handphone, nah si mbak-nya bilang "saya ulangi ya mas nomornya, eh mbak maaf" sial. Apa aku sebegitunya sampai si mbak-nya itu salah panggil, harusnya aku sudah terbiasa dengan kejadian serupa mengingat ini sudah kesekian ribu kalinya aku alami *lebay 

selamat malam, selamat tidur :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar